Mengunjungi Masjidil Haram

Sejarah, Ka'bah, etika, aksesibilitas, dan orientasi bagi pengunjung

Ka'bah dan mataf, area tawaf di tengah Masjidil Haram, Makkah
Ka'bah dan mataf, di tengah Masjidil Haram — Benjamin Richter, Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0

Masjidil Haram — Masjid Agung — adalah masjid yang dibangun mengelilingi Ka'bah di Makkah, dan merupakan masjid terbesar di dunia. Panduan ini membahas sejarahnya, elemen-elemen suci di dalamnya, etika bagi pengunjung, aksesibilitas, dan tata letak masjid. Panduan ini tidak mengulangi sejarah tingkat kota dan makna keagamaan yang sudah dibahas di panduan kota Makkah — lihat halaman tersebut untuk gambaran yang lebih luas.

Masjid, Ka'bah, dan mataf: apa bedanya?

Masjidil Haram adalah kompleks masjid secara keseluruhan — bangunan, lantai salat, halaman, dan menara. Ka'bah adalah struktur batu berbentuk kubus di tengahnya, kiblat yang menjadi arah salat umat Islam di seluruh dunia. Mataf adalah area terbuka berlantai batu yang langsung mengelilingi Ka'bah, tempat jamaah melaksanakan tawaf (mengelilingi Ka'bah). Kawasan suci yang lebih luas — batas Tanah Haram di sekeliling Kota Makkah itu sendiri — merupakan konsep terpisah dan lebih besar, dibahas di panduan kota, bukan khusus untuk masjid ini.

Sejarah dan perluasan

Masjid ini berkembang dari sebuah tembok pembatas yang dibangun mengelilingi Ka'bah pada masa Khalifah Umar di pertengahan abad ke-7 menjadi kompleks bertingkat seperti sekarang. Perluasan terbesar sebelum era Saudi terjadi pada masa khalifah Abbasiyah al-Mahdi dan al-Hadi di abad ke-8; Utsmaniyah menambahkan struktur lebih lanjut pada abad ke-17. Sejak 1950-an, perluasan berturut-turut era Saudi — yang terbaru adalah Perluasan Raja Abdullah, diumumkan pada 2008 dan dilaksanakan bertahap — telah menambahkan beberapa lantai salat, mataf yang diperluas secara signifikan, dan ruang berpendingin udara. Saat ini kompleks tersebut mencakup sekitar 356.000 m² dan umumnya disebut memiliki 13 menara. Kapasitas jamaah yang dilaporkan bervariasi menurut sumber dan tahun seiring selesainya tahap-tahap perluasan — anggap angka tunggal apa pun (termasuk yang ada di halaman ini) sebagai perkiraan, bukan statistik pasti saat ini.

Pemandangan eksterior Masjidil Haram, Masjid Agung Makkah
Masjidil Haram, Masjid Agung — Fadi El Benni / Al Jazeera English, Wikimedia Commons, CC BY-SA 2.0

Hajar Aswad, Maqam Ibrahim, dan sumur Zamzam

Tertanam di sudut timur Ka'bah adalah Hajar Aswad (Batu Hitam), beberapa fragmen yang disatukan dalam bingkai perak. Tradisi Islam meyakini bahwa batu ini jatuh dari langit; selama tawaf, jamaah secara tradisional berusaha menyentuh atau menciumnya, meskipun ini merupakan praktik devosional, bukan kewajiban, dan sering kali secara fisik tidak memungkinkan mengingat kepadatan jamaah. Di dekatnya berdiri Maqam Ibrahim (Tempat Berdiri Ibrahim), sebuah struktur tertutup kecil yang menurut tradisi dikaitkan dengan Nabi Ibrahim; ini adalah satu-satunya struktur bersejarah yang masih berdiri di dalam mataf, setelah penanda lain dihilangkan seiring diperluasnya area tawaf secara bertahap. Sumur Zamzam terletak sekitar 20 m sebelah timur Ka'bah; airnya kini didistribusikan melalui keran dan pendingin di seluruh kompleks, bukan diambil secara manual.

Etika bagi pengunjung

Berpakaianlah dengan sopan. Jamaah dalam ihram mengenakan dua lembar kain tak berjahit berwarna putih (pria) atau penutup sopan dan tidak transparan apa pun (wanita — tidak diwajibkan berwarna putih). Tawaf dilaksanakan berlawanan arah jarum jam, dengan Ka'bah berada di sebelah kiri Anda. Fotografi pribadi umumnya diperbolehkan selama tidak mengganggu orang lain, tetapi hindari berhenti di tengah tawaf untuk memotret, dan drone dilarang bagi masyarakat umum. Seperti masjid pada umumnya, nonaktifkan suara ponsel, hindari makan atau minum di dalam, dan waspadai kepadatan jamaah, terutama di dekat mataf dan sudut Hajar Aswad.

SituasiPanduan
Arah tawafBerlawanan arah jarum jam, Ka'bah di sebelah kiri
PakaianSopan bagi semua pengunjung; pakaian ihram khusus bagi jamaah haji/umrah
FotografiFoto pribadi umumnya diperbolehkan selama tidak mengganggu; drone dilarang
Menyentuh Hajar AswadPraktik devosional tradisional, bukan kewajiban — sering tidak memungkinkan saat sangat ramai

Aksesibilitas

Masjid ini memiliki ruang salat khusus, jalur landai untuk kursi roda, jalur aksesibel bertanda, dan kereta listrik maupun manual gratis bagi penyandang keterbatasan mobilitas, ditambahkan sebagai bagian dari tahap-tahap perluasan sebelumnya. Jika memerlukan bantuan mobilitas, tanyakan kepada petugas masjid di gerbang mana pun saat tiba.

Masjidil Haram diterangi cahaya pada malam hari, Makkah
Masjidil Haram di malam hari — Mbasit, Wikimedia Commons, CC BY-SA 3.0

Orientasi: gerbang dan tata letak

Masjid ini memiliki lima gerbang utama bernama, masing-masing diapit menara kembar, ditambah banyak pintu masuk yang lebih kecil — jumlah total gerbang yang pasti bervariasi antar sumber, sehingga halaman ini tidak menyebutkan satu angka pasti. Di dalamnya, ruang salat tersebar di area mataf lantai dasar serta beberapa lantai atas dan teras atap, yang dibuka pada waktu salat sibuk serta musim haji/Ramadan untuk menampung jamaah yang lebih banyak.

Pemandangan udara jamaah melaksanakan tawaf mengelilingi Ka'bah
Jamaah melaksanakan tawaf mengelilingi Ka'bah — Muhammad Mahdi Karim, Wikimedia Commons, CC BY-SA

Pertanyaan yang sering diajukan

Apa perbedaan antara Masjidil Haram dan Ka'bah?

Masjidil Haram adalah kompleks masjid secara keseluruhan; Ka'bah adalah struktur berbentuk kubus di tengahnya, yang menjadi pusat dibangunnya masjid tersebut.

Apakah saya perlu dalam keadaan ihram untuk memasuki Masjidil Haram?

Tidak — ihram khusus bagi jamaah yang melaksanakan haji atau umrah. Pengunjung lain diharapkan berpakaian sopan tetapi tidak diwajibkan mengenakan pakaian ihram.

Apakah fotografi diperbolehkan di dalam masjid?

Fotografi pribadi yang tidak mengganggu umumnya diperbolehkan, tetapi hindari berhenti di tengah tawaf untuk memotret, dan drone dilarang bagi masyarakat umum. Aturan dapat diterapkan secara berbeda pada waktu-waktu sibuk — ikuti petunjuk petugas di lokasi.

Bolehkah saya menyentuh Hajar Aswad?

Menyentuh atau mencium Hajar Aswad selama tawaf adalah praktik devosional tradisional, bukan kewajiban agama, dan sering kali secara fisik tidak memungkinkan karena kepadatan jamaah — banyak jamaah cukup memberi isyarat ke arahnya dari kejauhan.

Pemberitahuan penting: Halaman ini berisi informasi umum bagi pengunjung, bukan panduan resmi ibadah haji/umrah atau masuk, dan angka kapasitas/jumlah gerbang bersifat perkiraan. Untuk prosedur masuk terkini, aturan manajemen kerumunan selama haji/umrah/Ramadan, dan pembatasan akses apa pun, selalu periksa platform Nusuk atau Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi secara langsung sebelum bepergian.

Sumber & bacaan lanjutan

Konten diverifikasi: 23 September 2026