Madinah: Panduan Kota Tersuci Kedua dalam Islam

Sejarah, makna keagamaan, geografi, dan informasi praktis bagi wisatawan

Kubah Hijau di atas makam Nabi di Masjid Nabawi, Madinah
Kubah Hijau, di atas makam Nabi — Wadie Al-Houh, Wikimedia Commons, CC0

Madinah adalah kota tersuci kedua dalam Islam, setelah Makkah. Di sinilah Nabi Muhammad ﷺ hijrah pada tahun 622 M, di sinilah beliau dimakamkan, dan di sinilah Masjid Nabawi berdiri. Kota ini terletak di wilayah Hijaz, Arab Saudi bagian barat, sekitar 340–400 km utara Makkah, dan menjadi persinggahan umum bagi jamaah yang menunaikan haji atau umrah, serta tujuan ziarah — kunjungan yang bersifat sunnah, bukan wajib.

Letak Madinah

Madinah terletak di wilayah Hijaz, Arab Saudi bagian barat, pada ketinggian sekitar 620 m, dengan Gunung Uhud — puncak tertinggi di sekitarnya, sekitar 1.077 m — terlihat tepat di utara kota. Kota ini terhubung dengan Makkah dan Jeddah melalui kereta cepat Haramain, yang menempuh rute Madinah–Makkah dalam waktu kurang dari tiga jam.

Fakta singkat
WilayahProvinsi Madinah, Hijaz, Arab Saudi
Ketinggian≈ 620 m di atas permukaan laut
Jarak dari Makkah≈ 340–400 km melalui darat; kurang dari 3 jam dengan kereta cepat Haramain
Bandara terdekatBandara Internasional Pangeran Mohammad bin Abdulaziz
Landmark terdekat yang terkenalGunung Uhud (≈ 1.077 m), tepat di utara kota

Mengapa Madinah penting

Madinah menempati posisi sentral dalam sejarah Islam sebagai kota tujuan hijrah Nabi Muhammad ﷺ dari Makkah pada tahun 622 M — peristiwa yang dikenal sebagai Hijrah, yang menandai dimulainya tahun pertama kalender Islam. Sesampainya di sana, beliau diyakini menetapkan Piagam Madinah, sebuah kesepakatan yang mengatur hubungan antar-komunitas di kota tersebut. Masjid Nabawi, yang beliau dirikan, menjadi tempat pemakamannya, itulah sebabnya banyak umat Islam melakukan ziarah — kunjungan penuh penghormatan ke masjid tersebut — saat berada di kawasan itu; ziarah merupakan praktik keagamaan dan bentuk penghormatan pribadi, bukan salah satu rukun wajib haji atau umrah.

Pemandangan eksterior Masjid Nabawi dengan Kubah Hijau khasnya, Madinah
Masjid Nabawi — Adli Wahid, Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0

Sekilas sejarah Madinah

Sebelum Islam, permukiman ini dikenal sebagai Yathrib dan telah dihuni setidaknya sejak abad ke-9 SM, seiring waktu menjadi tempat tinggal suku-suku Yahudi serta suku Arab Aws dan Khazraj. Setelah Hijrah pada tahun 622 M, kota ini menjadi ibu kota komunitas Muslim awal dan, kemudian, Khilafah Rasyidin, hingga Khalifah Ali memindahkan ibu kota ke Kufah. Dua pertempuran penting di masa awal, Perang Uhud (625 M) dan Perang Khandaq (627 M), terjadi di sekitar kota ini. Kekuasaan politik selanjutnya beralih melalui pemerintahan Umayyah, Abbasiyah, Mamluk, dan Utsmaniyah, sebelum Madinah berada di bawah kendali Saudi pada Desember 1925. Seperti ringkasan sejarah pada umumnya, angka dari sumber tunggal sebaiknya dianggap perkiraan kecuali dikuatkan oleh sumber resmi terkini.

Pelataran dan kanopi payung peneduh di luar Masjid Nabawi, Madinah
Pelataran di luar Masjid Nabawi — GLady, Wikimedia Commons, CC0
PeriodePeristiwa
Era pra-IslamDikenal sebagai Yathrib; dihuni setidaknya sejak abad ke-9 SM oleh suku Yahudi dan Arab.
622 MHijrah: Nabi Muhammad ﷺ dan para pengikutnya berhijrah dari Makkah ke Yathrib, yang kemudian dikenal sebagai Madinah.
625 MPerang Uhud terjadi di dekat kota, di Gunung Uhud.
627 MPerang Khandaq terjadi untuk mempertahankan kota.
632–661 MMadinah menjadi ibu kota komunitas Muslim awal dan Khilafah Rasyidin.
Abad ke-7–20Kekuasaan politik beralih melalui pemerintahan Umayyah, Abbasiyah, Mamluk, dan Utsmaniyah.
5 Desember 1925Madinah berada di bawah kendali wilayah yang kemudian menjadi Kerajaan Arab Saudi (1932).
1950-an–sekarangPerluasan besar Masjid Nabawi secara berturut-turut untuk menampung jumlah pengunjung yang terus bertambah.

Menuju dan berkeliling Madinah

Madinah dilayani oleh Bandara Internasional Pangeran Mohammad bin Abdulaziz, dan oleh kereta cepat Haramain, yang menghubungkannya dengan Jeddah dan Makkah. Di dalam kota, taksi, aplikasi transportasi daring, dan bus shuttle melayani hotel dan area sekitar masjid.

Gunung Uhud, tepat di utara Madinah
Gunung Uhud, di utara Madinah — Rodina alwardat, Wikimedia Commons, CC0

Akses wisatawan: perbedaan Madinah dari Makkah

Berbeda dengan Makkah, kota Madinah secara keseluruhan terbuka bagi non-Muslim — hotel, restoran, area belanja, museum, dan banyak situs budayanya dapat dikunjungi siapa saja. Yang tetap dibatasi hanya untuk umat Islam adalah zona inti Haram tepat di sekitar Masjid Nabawi itu sendiri; non-Muslim tidak diizinkan memasuki masjid atau area dalamnya, meskipun batasnya ditandai pada peta dan papan penunjuk di kota. Perbedaan ini — kota terbuka, area masjid dibatasi — berbeda dari Makkah, tempat seluruh kota tertutup bagi non-Muslim, dan wisatawan tidak boleh menganggap kedua aturan tersebut sama.

Pertanyaan yang sering diajukan

Bolehkah non-Muslim mengunjungi Madinah?

Ya, dengan batasan tertentu. Non-Muslim boleh mengunjungi kota Madinah itu sendiri, termasuk hotel, toko, dan banyak situs budayanya. Yang dibatasi adalah zona Haram tepat di sekitar Masjid Nabawi — non-Muslim tidak diizinkan masuk ke dalam masjid atau area dalamnya. Ini berbeda dari Makkah, tempat seluruh kota tertutup bagi non-Muslim.

Apa itu ziarah, dan apakah wajib?

Ziarah adalah kunjungan penuh penghormatan ke Masjid Nabawi dan makam Nabi. Ini merupakan praktik keagamaan, bukan salah satu rukun wajib haji atau umrah, dan banyak jamaah memilih menggabungkannya dengan perjalanan mereka tanpa menjadikannya persyaratan resmi dari kedua ibadah tersebut.

Seberapa jauh Madinah dari Makkah?

Sekitar 340–400 km melalui darat tergantung rute, atau kurang dari tiga jam dengan kereta cepat Haramain.

Apa bandara terdekat dengan Madinah?

Bandara Internasional Pangeran Mohammad bin Abdulaziz melayani kota ini secara langsung.

Pemberitahuan penting: Halaman ini berisi informasi umum destinasi, bukan panduan resmi ibadah haji/umrah. Aturan akses wisatawan dapat berubah; untuk prosedur masuk terkini dan pembatasan apa pun, selalu periksa platform Nusuk atau Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi secara langsung sebelum bepergian.

Sumber & bacaan lanjutan

Konten diverifikasi: 23 September 2026